Metode ini pertama kali diusulkan oleh Portniagune dan Castagna (2005) dengan menekankan aspek geologi dibandingkan aspek matematik serta berdasar pada spectrum frekuensi lokal yang diperoleh dari metode spectral decomposition. Hanya saja metode ini masih terbatas pada data post-stack. Sehingga penggunaannya hanya pada penggambaran stratigrafi, termasuk identifikasi fault, channel (lingkungan pengendapan) maupun proses sedimentasi.
Perlu untuk diketahui bahwa metode inverse spectral hanya efektif digunakan pada kasus lapisan tipis dengan jendela waktu yang pendek (short time window) seperti pada metode dekomposisi spectral yang dijelaskan oleh Partyka dkk. (1999). Zona pendek inilah yang disebut dengan interest zone. Oleh karenanya dalam penggambaran zona ini biasanya dilakukan slicing (pengirisan) terhadap penampang seismik, dimana kita hanya mengambil zona interest tersebut untuk keperluan interpretasi.
Rubino dan Danilo (2009) kini telah mengusulkan penggunaan metode ini untuk data pre-stack dalam menentukan sifat-sifat dari lapisan tipis (termasuk estimasi ketebalan, kecepatan [primer dan sekunder] dan densitas batuan). Pengembangan ini dilakukan agar metode inverse spectral tidak hanya terbatas pada penggambaran pola stratigrafi, akan tetapi juga dapat digunakan untuk estimasi sifat-sifat fluida dalam keperluan studi karakterisasi reservoir. Dalam tulisan ini, penggunaannya pada data pre-stack tidak akan dibahas…nanti aja hehe
Pada prinsipnya metode inverse spectral bertujuan untuk mengekstraksi refleksi secara detail dengan menghilangkan pengaruh wavelet dari setiap trace seismic. Oleh karenanya metode ini dilakukan pada setiap trace (trace by trace). Hal ini disebabkan oleh setiap trace seismic memiliki spectrum amplitude yang berbeda dengan karakteristik frekuensi yang juga berbeda. Metode ini sepertinya mirip dengan dekonvolusi homomorphic.
Nah, dalam mempelajari target reservoir, diperlukan peningkatan frekuensi pada data seismic. Akan tetapi untungnya metode ini dilakukan tanpa menimbulkan masalah munculnya noise pada frekuensi tertinggi (ehmm…harus sophistic neh). Gambar 1, menunjukkan perbandingan antara data input dan data inverse spektral yang telah dikonvolusikan kembali dengan bandpass wavelet dari 5 Hz-120 Hz (adakah efek noise-nya ?). Gambar 2 juga memperlihatkan perbandingan antara data input dengan data inverse spectral. Sedangkan gambar 3, menunjukkan perbedaan sebelum (kiri) dan sesudah (kanan) ekstraksi refleksi dimana sonic log digunakan sebagai perbandingan resolusi secara vertical. It’s amazing man :-)
(1)
(2)
Sebagaimana juga diketahui bahwa atribut seismic dapat digunakan untuk memetakan pola onlap/offlap, parasekuen dan sediment transport. Gambar 4 menunjukkan perbandingan atribut koherensi yang diperoleh dari sebelum (kiri) dan sesudah (kanan) penggunaan metode inverse spectral. Perhatikan channel dan fault,…keliatan nggak ya?
(3)
(4)
Referensi:
Chopra, Satinder, John P. Castagna, O. Portniagune, 2006. Seismic resolution and thin-bed reflectivity inversion: CSEG recorder.
Chopra, Satinder, John P. Castagna, Yong Xu, 2008. Resolving thin-beds and geologic features by spectral inversion: AAPG Explorer.
Partyka, G., J. Gridley, and J. Lopez, 1999. Interpretational applications of spectral decomposition in reservoir characterization: SEG The Leading Edge.
Portniagune, O. and John P. Castagna, 2005. Spectral Inversion-lessons from modeling and Boonesville case study: 75th SEG Meeting.
Rubino, J. G., and Danilo Vellis, 2009. Thin-bed prestack spectral inversion: SEG Geophysics, vol.74.